Yay!! Akhirnya saya update blog lagi
Setelah dua minggu lebih hiatus karena mati ide ga tau harus nulis apa, akhirnya punya bahan postingan juga. Kebetulan Senin kemarin saya melarikan diri dari rasa bosan ke Pantai Ujung Genteng. Masih asing? Ga tau? Wajar sih, soalnya pantainya terisolasi dan belum banyak orang yang ke sana. Padahal, ga jauh-jauh amat dari Pelabuhan Ratu yang terkenal itu. Ini sedikit oleh-oleh dari saya, mungkin nanti ada yang berniat ke sana

Di sini lho Ujung Genteng
Gambar peta diambil dari sini
Hari Keberangkatan : Perjalanan Clueless
Di Minggu sore saya mendapat ajakan mendadak untuk ke Ujung Genteng. Daerah yang asing di telinga saya yang saya tahu sih kalau mau ke Ujung Genteng ya tinggal naik tangga ke atap.Saya setuju ikut tanpa tahu apa-apa soal Ujung Gentang. Senin pagi datang, saya pun bersiap-siap berangkat ke tempat janjian saya dengan Gina, yaitu di perempatan jalan dekat rumahnya yang kira-kira hanya 5 menit dari rumah saya dengan naik motor. Pagi itu, sekitar pukul 07.30 saya diantar sepupu saya ke perempatan yang ramai itu. Sampai sana saya menunggu cukup lama & membuat saya agak ga sabar. Gina datang setelah saya dilewati beberapa ratus motor dan juga ditawari empat tukang ojek untuk menggunakan jasanya
Setelah dia datang, kami mampir ke toko swalayan dekat situ untuk membeli roti dan minum untuk sarapan saya. Urusan belanja selesai, kami pun menaiki angkot menuju ke Terminal Bekasi. Sesampainya di terminal, kami mencari-cari bus menuju ke Sukabumi, berharap bisa menemukan bus yang langsung berangkat dan bagus seperti bus Primajasa Bekasi-Bandung. Setelah bertanya kepada seorang bapak, akhirnya kami menemukan sebuah bus menuju Sukabumi. Bus ekonomi dengan bentuk yang memprihatinkan, mirip metromini dengan cat coklat kumal. Saya sempat khawatir juga melihat bus tersebut dan berharap bisa menemukan bus AC yang bagus. Bukan apa-apa, saya sering mabuk darat dan tidak ingin menyengsarakan diri tersiksa sepanjang perjalanan. Tapi rupanya, itu adalah satu-satunya bus yang akan berangkat ke Sukabumi. Bus berikutnya yang merupakan bus AC baru berangkat sekitar pukul 2 siang. Mana bisa kami menunggu selama itu, apalagi Erika dan Nanda sudah terlebih dahulu berangkat dari Bandung untuk selanjutnya bertemu kami di Terminal Degung, Sukabumi. Akhirnya, mau ga mau, suka ga suka, saya dan Gina naik bus tersebut. Sedikit frustasi juga melihat interior bus yang sudah karatan sana-sini dengan jok yang kumal. Penumpang selain kami juga baru ada tiga orang, makin was-was juga kalau bus ini akan ngetem lama
Setelah lama menunggu, kursi bus tidak kunjung penuh, dan untungnya bus segera berangkat setelah pukul 9. Dan dimulailah perjalanan pertama saya dengan bus ekonomi bertarif Rp 20.000,- menuju Sukabumi. Supaya tidak mabok, saya juga minum si obat anti mabok yg terkenal itu

Ini dia, si bus ekonomi jurusan Bekasi-Sukabumi
Sepanjang perjalanan, saya ngobrol dengan Gina tentang Ujung Genteng. Ternyata eh ternyata, dia pun ga tau-tau amat tentang Ujung Genteng. Dia cuma sempet googling tentang penginapan dan tau kalo ada konservasi penyu hijau di sana. Masalah angkot dan lain-lainnya ga tau, yah yang penting sampai di Terminal Degung dulu katanya. Dan ternyata juga, dia pun ga tau terminal Degung itu di mana, jadi yah hanya bermodal PD nekat saja
Sekitar pukul 12 siang, Erika dan Nanda sms Gina, bilang kalau mereka udah sampai di Terminal Degung. Perjalanan yang kami kira hanya memakan waktu 3 jama, ternyata molor menjadi 4 jam. Sampai di Sukabumi sekitar pukul 1 siang, kami diturunkan di depan terminal dan akhirnya bertemu Erika & Nanda yang sudah sampai sejak sejam lalu. Karena kami ga tau angkot apa yang menuju ke sana, jadi ya kami tanya ke orang-orang di terminal. Kemudian kami disarankan naik angkot kuning 03 yang menuju Terminal Lembur Situ, ongkosnya Rp 5.000,- dan memakan waktu sekitar 20 menit. Sesampainya di Lembur Situ, kami langsung dikerumuni kenek angkot yang menawarkan jasanya menuju Ujung Genteng dan Surade. Kenek-kenek itu benar-benar mengerumuni kami dan terus berteriak-teriak menawarkan angkotnya. Ada semacam angkot agak besar bermerk Elf yang disebut Elep, katanya sih bisa menempuh jarak 1,5 jam saja mencapai Ujung Genteng. Lalu satu lagi adalah bus semacam metromini bercat biru yang disebut MGI, bus ini hanya membawa penumpang sampai terminal Surade dengan jarak tempuh 3 jam. Karena perbedaan waktu tempuh tersebut, kami berkesimpulan kalau si Elep tadi pasti ugal-ugalan dan karena kami masih sayang nyawa,maka kami memutuskan naik MGI. Tarifnya Rp 20.000,-, tapi si kenek sempat membohongi kami dan meminta ongkos sebesar Rp 25.000,-. Namun, karena sebelumnya kami sudah bertanya pada penumpang lain, si kenek ga berhasil nipu kami
Keadaan di MGI ga jauh beda dg bus ekonomi dari Bekasi tadi, bedanya hanya lebih penuh penumpang dan medannya yang berliku-liku naik turun bukit. Lagi-lagi, untungnya saya ga mabok. Padahal, supirnya mengemudi dengan cukup ekstrim dan sempat membuat saya terngeri-ngeri, khawatir hidup saya berakhir di jurang = =; Sepanjang perjalanan, jarang sekali rumah yang ditemui, kebanyakan adalah kebun teh & hutan-hutan. Kondisi jalan ada yang mulus dan ada yang rusak parah. Mengingat kondisi jalan yang sempit dan berkelok-kelok, bagi pengguna kendaraan pribadi, pastikan pengemudinya memang sudah lihai dan jangan lupa bawa supir cadangan. Karena ternyata, perjalanan menempuh waktu 5 jam! Saya sampai stress di jalan. Akhirnya sekitar pukul 5.30 sore, kami sampai di terminal Surade dan diberitahu oleh penumpang yang sebus dengan kami kalau biasanya jam segitu angkot menuju Ujung Genteng udah ga ada. Untungnya, ada satu angkot yang mau pulang dan kebetulan arahnya ke Ujung Genteng, jadi akhirnyaaaaa kami naik angkot tersebut. Kalau ga ada angkot itu, mungkin kami terpaksa bermalam di masjid di Surade
Dari Surade menuju Ujung Genteng sekitar 40 menit, menyusuri jalanan yang sepi dan kami berada di satu-satunya angkot menuju Ujung Genteng. Rumah-rumah di pinggiran jalan sedikit, banyak pepohonan, dan sesekali terlihat laut biru dari kejauhan. Kami juga melewati Villa Amanda Ratu, yang katanya merupakan penginapan termahal. Namun, letaknya sendiri masih jauh dari Ujung Genteng yang ’sebenarnya’. Akhirnya kami sampai di Ujung Genteng, biasanya angkot hanya berhenti sampai pertigaan saja, namun kali ini angkotnya mau mengantar kami sampai ke penginapan yang uuh-well jauh banget dari pertigaan tadi. Jalanan dari pertigaan tersebut sepi dan suram, rumah-rumah dari kayu yang suram, dan semak semak sepi. Kami ditanya akan menginap di mana, dari hasil googling, katanya Pondok Hexa paling bagus di daerah situ. Maka kami bilang kami akan menginap di sana. Kami melewati Pondok Adi dan Losmen Mama’s, penginapan model rumah panggung yang bernuansa suram dan sepi. Akhirnya kami sampai di Pondok Hexa, ongkos angkot adalah Rp 15.000,-. Biasanya dari Surade sampai pertigaan hanya Rp 10.000,- dan harus naik ojek ke penginapan dengan ongkos yang sama. Jadi, hari itu kami berhasil menghemat Rp 5.000,-
Sampai Pondok Hexa, kami menanyakan harga kamar per malamnya. Kamar tanpa AC, dihargai Rp 150.000-/malam dan kamar AC dengan luas yang lebih besar Rp 230.000,-/malam dan semuanya tidak termasuk breakfast. Kami memilih kamar ber-AC dengan tempat tidur King size, tv, dan kamar mandi, karena kamar yang tanpa AC letaknya terpencil dan gelap
Lagipula sekamar bisa berempat, tanpa tambahan apa-apa lagi. Hari pertama sampai sana, kami ga berani kemana-mana. Karena katanya daerah situ sepi dan dulu sempat ada yang dibunuh di daerah situ, dan memang iya sih sepi dan juga gelap
Malamnya, ketika saya dan Erika sedang duduk-duduk di beranda depan kamar, ada tukang ojek yang menawari paket wisata seharga Rp 120.000,- untuk pergi melihat penyu bertelur di tempat konservasi di Pangumbahan dan juga tur keliling semua pantai di daerah situ. Karena takut, kami pun menolak. Padahal sebenarnya kami pengen banget liat penyu hijau datang dari laut untuk bertelur
Hari pertama di Ujung Genteng kami habiskan dengan istirahat saja dan membicarakan rencana jalan-jalan keesokan harinya.

Kamar penginapan di Pondok Hexa
Hari Senang-senang : Keliling Pantai
Hari kedua di Ujung Genteng, kami berharap bisa melihat sunrise. Tapi ternyata, sunrise-nya berlawanan dengan arah laut. Jadilah, kami melihat sunrise yang muncul dari balik pohon kelapa
Pantai Kelapa Condong yang terletak di depan penginapan kami, pagi itu airnya surut. Tapi, menyisakan kolam-kolam alami yang jernih dengan hewan-hewan laut di dalamnya. Kami berjalan menyusuri pantai yang cantik itu. Airnya jernih, pantainya berpasir putih, dan sepi. Udara hari itu juga sangat cerah. Di pantai ini, pasirnya kasar karena tercampur dengan kerang-kerang kecil. Jadi, melepaskan sandal tidak terlalu saya anjurkan, karena bisa bikin kaki ngilu-ngilu tertusuk kerang
Dari jauh, terlihat garis pantai yang lain. Katanya pantai di ujung sebelah barat itu yang paling bagus. Di sana, ada pantai Cibuaya, lalu pantai Akuatik yang bersebelahan dengan Ombak Tujuh, kemudian pantai Pangumbahan yang juga dijadikan tempat konservasi penyu hijau, dan terakhir adalah pantai Cipanarikan yang terletak paling ujung barat. Ke sebelah timur adalah pantai Ujung Genteng, namun pantai ini adalah pantai nelayan dan hutan di pantai paling ujung Ujung Genteng digunakan sebagai tempat latihan AURI.
Pagi itu, setelah kami puas main-main di pagi hari, kami sarapan mie rebus telur dan teh hangat di warung depan penginapan. Di situ juga ada tukang ojek yang menawarkan jasanya. Awalnya dia menawarkan harga Rp 80.000,- untuk mengantar kami seharian mengelilingi pantai. Tukang ojek ini akan mengantar dan menunggui kita seharian bermain di pantai. Setelah tawar menawar, akhirnya abang ojek mau menurunkan tarif sampai Rp 60.000,-. Mahal? Ah, gapapa, dibandingkan harus menyusuri pantai sepanjang 6 km dengan berjalan kaki, jelas lebih baik naik ojek. Ketika kami akan berangkat dengan ojek, serombongan bule berangkat dari penginapan membawa papan seluncur. Rupanya, banyak juga bule yang surfing di Ombak Tujuh. Dengan kepergian para bule itu, maka kami menjadi tamu satu-satunya di Pondok Hexa. Berasa punya sendiri deh
Sekitar pukul 8 pagi, kami berangkat naik ojek. Alamak, jalannya kecil, cuma jalan tanah, dan dikelilingi semak-semak. Sepi sekali. Sampai-sampai kalau Aa ojek berniat jahat, saya bisa saja ditelantarkan di situ. Untungnya sih itu tukang ojek ga ada niat jahat sama kami
Sekitar 1 km dari penginapan, kami sampai ke pantai Cibuaya. Berbeda dengan pantai Kelapa Condong yang tidak bisa dipakai untuk berenang, pantai ini bisa untuk berenang. Namun, semakin ke timur, ombaknya semakin besar. Warnanya cantik sekali, gradasi biru yang indah. Air yang bening, pasir putih, langit cerah tanpa awan, dan ombak putih bergulungan, benar-benar membuat saya terpesona dengan Kuasa Tuhan. Cantik banget deh pantai ini

Gradasi warnanya, cantik banget

Bagus banget >.<"
Setelah puas main dan bernarsis ria di pantai ini, perjalanan dilanjutkan ke pantai akuatik dan Ombak Tujuh. Di pantai Akuatik, airnya juga jernih sehingga kita bisa lihat sampai ke dasarnya yang berupa karang-karang. Kalau kita jeli dan berjalan agak ke tengah, banyak hewan laut yang bisa dilihat. Tapi, karena pantai ini berdekatan dengan pantai Ombak Tujuh, ombaknya agak besar, namun sedikit tertahan oleh karang yang ada sekitar 50 meter dari garis pantai. Berjalan ke arah timur, ada pantai Ombak Tujuh. Di pantai ini isinya bule semua, eh ya kecuali kami sih
Mereka banyak yang ber-surfing ria dan beberapa lainnya berjemur di pantai. Dari tepian pantai ini, kita bisa melihat tepian pantai lainnya yang berombak sangat besar. Kami ga lama-lama di pantai ini, soalnya ga enak ah diliatin sama bule-bule itu

Jalan Pantai...

Beningnyaaa...
Perjalanan selanjutnya adalah Pangumbahan, tempat konservasi penyu hijau. Tempatnya masuk ke hutan dan berupa bangunan-bangunan suram yang sepi. Kata Aa’ tukang ojek, ini hanya satu di antara beberapa tempat konservasi penyu di daerah Ujung Genteng. Ada beberapa tempat lainnya, tapi hanya yang di Pangumbahan ini yang bisa dikunjungi. Kalau datang lebih pagi, kita bisa melihat bayi-bayi penyu yang disebut tukik. Tapi, karena kami datang agak siang, penjaga yg membawa kunci sudah pulang. Jadi, kami hanya bisa bermain di pinggiran pantai Pangumbahan dan melihat tempat telur-telur penyu di pinggiran pantai yang dijaga dengan sekat-sekat.
Di malam hari, penyu-penyu datang ke tempat ini dan bertelur di pasir-pasir pantai. Biasanya ada 3-4 ekor penyu yang datang bertelur di malam hari. Kalau berminat melihatnya, bisa berangkat dari hotel sejak jam 8 malam dengan jasa ojek, ongkosnya Rp 40.000,- sudah termasuk tiket ke konservasi seharga Rp 5.000,-. Kami ga ikut paket tur ini, karena errr..beneran deh tempatnya terpencil banget, menelusuri semak dan hutan. Siang-siang aja udah horor gt, apalagi malam. Mana saya takut gelap
Agak sayang sih karena ga bisa liat penyu-penyu itu, tapi apa daya
Tapi yah, ga terlalu nyesel juga sih ga bisa liat penyu. Pantai ini baguuuusss banget, pasirnya putih lembut dan hangat. Tapi, di pantai ini kita ga boleh main air, ombaknya lumayan besar, jadi agak bahaya. Dulu, katanya pernah ada yang tenggelam di pantai ini. Di sini juga banyak kerang-kerang yang bagus, jadi kami lama di sini untuk mencari kerang dan mengambil pasir buat oleh-oleh

Ayo, selamatkan penyu!

Pasirnya hangat loh
Next destination, pantai paling oke yang palingg ujung! Pantai Cipanarikan. Perjalanan ke sana cukup horor, melewati semak belukar dan hutan. Sepi. Kalau saya dibuang di situ, kemungkinan saya ga akan bisa balik lagi, serius deh. Tempatnya terpencil banget, kaki juga agak perih karena seringkali ‘menyapa’ semak-semak. Kami diberhentikan di suatu tempat yang agak tinggi, kalau melihat ke bawah, terlihatlah pasir putih yang terbentang luas, laut yang biru, muara suangai yang jernih, dan bukit di ujung pulau. Ketika melihatnya, saya terpana. Benar-benar cantik dan sanggup membuat saya jatuh cinta.

Muara sungai


Pasir putih, laut & langit yang biru

Nyantai di pantai
Waktu kami datang ke pantai ini, ada beberapa orang nelayan yang sedang menjala ikan di muara. Namun, tidak lama setelah kami datang, mereka pergi. Jadi hanya tinggal kami berempat di pantai itu. Kami pun jadi bebas teriak-teriak, lari-lari, dan guling-guling di pasir
Berasa punya private beach deh, hehehe. Matahari bersinar terik, tapi banyak angin berhembus, jadi udara tidak terlalu panas. Air laut dan muara juga dingin. Karena iseng, Gina mencicipi air muara yang bening itu, ternyata rasanya payau
Kami cukup lama di pantai tersebut dan baru memutuskan untuk kembali ke penginapan setelah terjadi tragedi kamera kecemplung. Setelah heboh dengan kamera yang ‘mandi’ di laut, kami ke penginapan untuk mengeringkan kamera. Namun, kami tidak lama di penginapan dan segera melanjutkan perjalanan ke pasar ikan di Ujung Genteng by ojek
Sesampainya di pasar ikan, penjual sudah tidak begitu banyak karena hari sudah siang. Rata-rata harga ikan per kilo adalah Rp 15.000,- . Namun, untuk ikan layur harga per kilonya adalah Rp 20.000,-. Di pasar ikan ini juga dijual udang, harga per kilonya mencapai Rp 130.000,-. Kami yang awalnya bernafsu membeli udang langsung ternganga dan memutuskan untuk membeli ikan saja. Akhirnya kami membeli seekor ikan ekor merah, seekor bawal kolam, dan seekor ikan-gepeng-yang-saya-lupa-namanya, total harganya adalah Rp 20.000,-. Dari pasar ikan, kami bisa minta ikan kami dibakar di restoran penginapan atau di rumah makan sekitar yang cuma ada satu. Kami memilih untuk ‘numpang’ membakar ikan di rumah makan saja, supaya bisa makan es kelapa sekalian. Ongkos membakar ikan adalah Rp 25.000,- Sama seperti harga ikannya
Kemudian kami memesan empat nasi dan empat buah kelapa, total harga termasuk ongkos membakar tadi adalah Rp 60.000,-. Setelah selesai makan, kami pun kembali ke penginapan, dan membayar ongkos ojek seharian, keliling pantai Rp 60.000,- dan ongkos ke pasar ikan Rp 10.000,-, totalnya adalah Rp 70.000,-.

Ikan Layur

Makan siang tiba >.<"
Sesampainya di penginapan, kami beristirahat sejenak. Setelah energi kembali terisi, kami pun ke pantai di depan penginapan. Saat itu pantai tidak sesurut ketika pagi, kami berniat berjalan agak ke tengah. Karena di pantai ini, ombak memang tidak pernah sampai ke tepian, kita harus berjalan sekitar 50 meter dulu untuk bisa bermain ombak. Kami mengurungkan niat tersebut karena kami banyak menemukan ‘ular laut’ di kolam-kolam yang tidak surut. Usut punya usut, setelah kami goggling dan memperhatikan badan si ‘ular laut’ ternyata itu bukan ular laut
Tapi, entah apa saya juga belum tahu. Akhirnya kami hanya bermain di pinggir pantai dan belajar biologi
Banyak hewan laut di pantai ini, kami menemukan bintang laut, teripang, landak laut, bulu babi, kerang, kepiting, dan lainnya termasuk si ‘ular laut’ yang tadi

Pantai di depan penginapan

Nuansa bening *halah*

Memfoto bayangan

Ada Patrick lagi jalan-jalan

Patrick yang langsing

Tertuduh ular laut, yang ternyata bukan ular laut
Hari sudah mulai petang, kami pun kembali ke penginapan. Beristirahat sambil memikirkan nasib kamera yang kecemplung tadi. Sampai tulisan ini dibuat, belum ketahuan apakah dokumentasinya bisa terselamatkan atau tidak
Di malam kedua ini, kami hanya tinggal bertiga saja. Karena, salah satu teman saya yaitu Nanda, dijemput pulang oleh ibunya yang kebetulan sedang berada di Sukabumi.
Hari Pulang : Perjalanan Aneh
Hari ketiga di Ujung Genteng, saatnya pulang karena uang kami sudah menipis. Mengambil uang di ATM adalah opsi yang nyaris tidak mungkin, karena perjalanan menuju ATM terdekat memakan waktu lebih dari satu jam dengan ongkos PP Rp 40.000,-. Lebih baik pulang saja
Biaya menginap dua malam adalah Rp 460.000,- dibagi untuk empat orang, masing-masing membayar Rp 115.000,- . Dari penginapan menuju pangkalan angkot menggunakan ojek, ongkosnya adalah Rp 10.000,-. Kami naik angkot menuju Surade bersama nelayan yang akan menjual ikan-ikannya sekitar pukl 09.00 pagi. Kali ini ongkos angkot hanya Rp 8.000,- saja
Sesampainya di terminal Surade sekitar pukul 09.45, kami mencari-cari bus MGI menuju terminal Lembur Situ. Ternyata sudah tidak ada, padahal menurut ‘Aa ojek bus MGI biasanya ada sampai pukul 10 pagi. Dengan terpaksa kami menaiki Elep
Elep ini selalu ada sampai sore. Katanya sih Elep ini lebih cepat dari MGI. Kalau lebih kebut-kebutan sih iya. Saya sampai khawatir kalau hidup saya berakhir di situ
Selama perjalanan saya sempat terheran-heran, saya melihat beberapa angkot yang membawa penumpang di atasnya! Benar-benar di atas alias di atap mobil. Padahal saya yang di dalam mobil saja sudah setengah mabok dan pegangan erat-erat ke jendela. Kok bisa ya mereka tahan di atap mobil begitu
Perjalanan dengan Elep ini memakan waktu 5 jam, meleset dua jam dari yang dibilang kenek. Keterlambatan ini bukan tanpa alasan, meski ngebut sampai bikin saya mual-mual, elep ini seringkali ngetem menunggu penumpang sampai benar-benar memenuhi semua kursi. Total lama ngetem sampai satu jam lebih
Ongkos elep ini lebih mahal Rp 1.000,- dibanding MGI, yaitu Rp 21.000,-

Elep ini akan benar-benar penuh nuh nuh nuh. . .
Sampai di Terminal Lembur Situ, kami naik angkot menuju Terminal Degung. Ongkosnya adalah Rp 4.000,-. Sampai sekarang saya masih bingung kenapa ongkos ketika berangkat dan pulang itu berbeda
Dari Lembur Situ, kami akhirnya sampai Terminal Degung sekitar pukul 14.30. Bus dari Sukabumi menuju Bekasi, menurut kenek bus ekonomi di hari keberangakatan saya, baru ada pukul 17.00. Artinya saya dan Gina harus menunggu agak lama, karena Erika berangkat lebih dulu dengan bus menuju Bandung. Tapi ternyata. . .bus menuju Bekasi dan Jakarta sudah tidak ada. WTH?! AKhirnya saya terpaksa naik bus ekonomi menuju Depok dengan ongkos Rp 15.000,- Keneknya bilang kalau saya mau ke Bekasi, saya bisa turun di depan pintu tol Citeureup dan menunggu bus menuju Bekasi di sana. Bus ini SANGAT ugal-ugalan. Berkali-kali penumpang berteriak memarahi supir yang mencoba membalap bus dengan jurusan yang sama. Lagi-lagi, saya pasrah kalau hidup saya berakhir di sebuah bus kumal di jalanan Sukabumi
Jalanan sangat macet karena banyak orang yang sedang pulang kerja, sepanjang perjalanan banyak truk truk yang membawa galon-galon air mineral berpapasan dengan bus yang saya naiki. Kemacetan bertambah parah setelah memasuki Ciawi dan mulai lancar setelah masuk tol. Keluar dari tol, kami diturunkan di depan tol Citeureup.
Hari sudah malam, dan ada dua bus yang menuju Pulo Gadung dan Cempaka Mas. Bus menuju Bekasi sudah tidak ada. Akhirnya saya dan Gina menaiki bus menuju Pulo Gadung dan turun di Prumpung untuk menunggu bus 9 A yang menuju Bekasi. Saya khawatir kalau lagi-lagi saya tidak mendapat bus menuju Bekasi, errr… tapi jam baru menunjukkan pukul 8 malam, dan Jakarta masih ramai. Setelah menunggu 15 menit, akhirnya kami mendapatkan bus menuju Bekasi. Bus penuh sesak, saya berdiri di dekat pintu berdesak-desakan dengan banyak orang dengan bau yang campur-campur
Awalnya saya kira perjalanan akan lancar, tapi di tengah tol, bus mogok. Penumpang berjejalan di dalam, berebutan oksigen, berharap agar bus segera jalan. Beberapa penumpang memilih turun setelah melihat supir memperbaiki mesin dengan menyalakan lilin. Khawatir dengan cara memperbaiki mesin yang aneh, penumpang termasuk saya dan Gina beramai-ramai turun di tengah tol yang ramai. Berlari menghindari mobil yang melaju cepat. Maka, terlantarlah saya di pinggiran tol sambil berharap akan ada bus lain yang lewat. Setelah menunggu agak lama, akhirnya ada juga bus 9 A yang mau menampung kami. Namun, kami harus berlari mengejar bus ini, karena supir bus enggan benar-benar berhenti sejenak untuk menaikkan penumpang. Setelah setengah jam di bus, akhirnya saya sampai di Bekasi pada pukul 22.00. Selanjutnya dari pintu tol, saya dijemput ayah saya. Huhuhuhu, saya lega sekali waktu melihat beliau tiba dengan mobil hitamnya. Akhirnya saya sampai rumah juga setelah berada dalam perjalanan yang aneh selama 12 jam
Tips untuk Lari secara “Kere” di Ujung Genteng :
1. Bawalah sandal jepit dan air minum yang cukup. Saya sempat mengalami dehidrasi karena kurang minum.
2. Berangkatlah sepagi mungkin, baik ketika berangkat maupun pulang, karena bus di sana terbatas dan tidak sampai sore. Bus terakhir menuju Bandung adalah pukul 16.00 dan menuju Bekasi atau Jakarta pada pukul 15.00. Tapi, terkadang hal itu bisa berubah, seperti yang saya alami kemarin.
3. Beramah-ramahlah pada Aa ojek supayan bisa mendapat diskon. Dengan bilang kalau kita mahasiswa apalagi dengan tampang yang kere macam saya biasanya akan mendapat diskon.
4. Kalau mau lebih hemat lagi, bisa menginap di penginapan selain Pondok Hexa. Tapi, soal kenyamanan dan keamanan, Pondok Hexa merupakan yang paling bagus di daerah sana. Kemarin kunci kamar kami sempat dua kali tertinggal dan untungnya tidak ada satupun barang yang hilang.
5. Bagi yang khawatir kulit terbakar, jangan lupa bawa tabir surya atau topi.
6. Harga makanan di penginapan tidak terlalu mahal, tapi supaya lebih hemat bisa sarapan mie rebus telur dan teh hangat di warung depan penginapan
7. Untuk yang sering mabuk darat, minumlah Ant**o. Akan sangat membantu di perjalanan Anda *iklan*
Rute Perjalanan dari Bekasi
Terminal Bekasi-Terminal Degung, Sukabumi-Terminal Lembur Situ-Terminal Surade-Ujung Genteng. Berdoalah semoga tidak terjebak macet, sehingga bisa sampai Surade sebelum pukul 17.00. Kalau tidak beruntung, silahkan menginap di masjid terdekat
Waktu tempuhnya sekitar 9 jam. Untuk perjalanan pulang, rutenya sama, kecuali kalau mengalami perjalanan pulang yang aneh macam saya.
Selamat berlibur! Dan percayalah, perjalanan gila itu akan sebanding dengan view yang didapat
_______________________
*Foto diambil menggunakan kamera ponsel dengan resolusi 2 MP, jadi yah, ga terlalu bagus dan cuma sedikit
Setelah dokumentasi dari kamera digital bisa diselamatkan, gambar akan saya update
*Last edited on August 14, 2009 at 08.58 am : penambahan peta atas request temen kost
Recent Comments