Sleepless Fri(satur)day

Setelah nyaris dua bulan saya hiatus dari blogosphere dan terperangkap gemerlapnya dunia microblogging *halah*, akhirnya saya update blog lagi :D Postingan ini sesuai dengan judulnya, terlahir dari keinsomniaan saya setelah minum tiga gelas kopi dingin yang membuat saya menjadi saksi pergantian hari Jumat ke Sabtu. Dan karena mati gaya dan sedikit stress berkutat dengan tugas, akhirnya saya memutuskan untuk update blog saya dengan beberapa peristiwa yang saya lalui dua bulan belakangan ini :mrgreen:

Jadi, saya akan sok ngartis dengan memberitakan apa yang terjadi dua bulan belakangan ini. Yak, bagi yang ogah membaca kengartisan dan kelebayan saya, dipersilahkan untuk mundur teratur dengan meng-klik tanda “x” di browser Anda :lol:

Mari dimulai… Jeng jeng.. . :P

 
Peristiwa #1 : Noryoku Shiken

Sebulan lalu saya mendaftar untuk mengikuti ujian Noryoku Shiken alias ujian kemampuan bahasa Jepang. Saya yang kemampuan bahasa Jepangnya pas-pasan ini nekat mendaftar Noryoku Shiken di detik-detik terakhir sebelum penutupan. Hal ini dikarenakan, pada awalnya saya memang ga tahu dan ga berniat ikut ujian ini. Tapi, setelah dipersuasi oleh kakak angkatan, akhirnya saya nekat mendaftarkan diri mengikuti ujian ini. Kalau nggak salah, waktu saya mendaftar adalah Jumat, 11 September dan batas pengembalian formulir adalah Senin, 14 September. Namun, karena saya harus mudik pada Minggu siang, akhirnya pengembalian formulir saya titipkan pada teman saya yang tinggal di Jogja :D

Uang pendaftarannya Rp 10.000,- dan biaya tes tiap level berbeda. Karena, saya mengambil level paling bawah, yaitu Level 4, biayanya Rp 70.000,-. Untuk Level 3, biayanya Rp80.000,- dan untuk Level 2 & 1, Rp 100.000,-. Untuk Noryoku Shiken tahun depan, akan sedikit berbeda dengan tahun ini, kalau tidak salah, tahun depan akan ada lima level, yaitu Level 4, Level 3, Level transisi antara 3 dan 2, Level 2, dan Level 1. Tahun ini tesnya akan jatuh pada tanggal 3 Desember dan diselenggarakan di beberapa kota. Saya tentu saja mengambil ujian di Jogja yang bertempat di gedung FIB UGM. Doakan semoga saya bisa lulus ya :)

 
Peristiwa #2 : Kopdar Seaworld

Ketika bulan puasa lalu, waktu saya sedang liburan di rumah di Bekasi, ada beberapa undangan kopdar blogger *tsah, berasa famous deh :P * Undangan kopdaran sekaligus bukber datang dari Grace sebagai sesama orang Bekasi. Undangan kopdar bukber yang berlangsung di Sency ini dengan terpaksa tidak saya hadiri karena waktu itu sedang bokek :P Kemudian, setelah Lebaran, tepatnya hari ketiga Lebaran, saya dapat ajakan kopdaran lagi :D Yang mengajak saya, tentu saja Grace lagi :P Kebetulan waktu itu saya sedang tidak mudik, jadi sebenarnya free untuk diajak kemanapun. Kopdaran kali ini bertajuk *halah* wisata untuk mencintai binatang laut alias pergi ke Seaworld yang merupakan obsesi terpendam Grace untukmelihat Mas Dugong. Salah satu pemrakarsa acara kopdar ini adalah Mas Dnial yang merupakan teman plurk saya juga :P Supaya lebih ramai, kami mengajak yud1 yang ternyata tidak bisa ikut karena harus mencari nafkah. Selain itu, saya dan Grace juga berinisiatif mengajak Mbak Sukma yang kami hubungi via Twitter :D

Setelah sepakat mengenai tempat ketemuan dan segala macamnya, tinggal melakukan “eksekusi” kopdar. Sehari sebelum kopdar, saya sudah mendapat izin orang tua saya untuk pergi ke Seaworld. Namun, di hari H ternyata saya tidak mendapat izin pergi dari ibu saya dan akhirnya acara kopdaran di Seaworld pun terancam batal juga :| Untungnya, karena mendadak terjadi keajaiban yang kalau diceritakan akan sangat panjang sekali, saya bisa berangkat ke Seaworld, dan kopdaran dengan Grace, Ketut , Mbak Sukma, dan Mas Dnial. Meskipun cuma bisa kopdaran sebentar, tapi lumayan lah, yang penting saya sudah setor muka dan ngobrol-ngobrol :D Tapi, saya agak sebel juga sih, soalnya ga bisa ikutan foto-foto, padahal Mas Dnial bawa kamera tuh :| Semoga liburan nanti ada kesempatan untuk bertemu lagi ya :) Ke Planetarium yaa XD

 
Peristiwa #3 : Kopdar Phuket

Yak, jangan tertipu judulnya dulu, saya tidak kopdaran di Phuket, Thailand sana kok. Tapi, di Phuket nama resto Thailand di Jogja :) Kopdaran ini berlangsung tanggal 27 September lalu. Obrolan soal kopdaran ini bermula dari obrolan iseng via Twitter dan Plurk dengan Kurotsuchi yang sedang berada di Jogja. Kopdaran ini sebenarnya agak dadakan dan rencana awalnya merupakan acara kopdar jalan-jalan di Sunmor alias pasar di Minggu pagi di lingkungan UGM. Namun, karena pesawat saya delay, akhirnya saya baru tiba di Jogja sekitar pukul 10.30 siang dan sudah telat untuk pergi ke Sunmor. Tapi, acara kopdar tetap jalan :mrgreen: Rencananya yang kopdaran adalah empat orang, saya, Kurotscuhi, Arm, dan Cesty. Namun, karena pada hari itu Cesty masih belum tiba di Jogja, akhirnya hanya bertiga saja.

Karena hari sudah siang, awalnya kami akan makan siang di Nanamia Pizzeria, tapi setelah sampai sana ternyata Nanamia masih tutup. Setelah melakukan perundingan dan negosiasi, akhirnya sepakatlah untuk pergi makan siang ke Phuket di Ring Road Utara. Kopdaran yang ini cukup lama dan mengenyangkan. Sayangnya, lagi-lagi ga ada acara foto-foto. Yang difoto malah sisa bekas makan :| Tapi, terima kasih buat Kurotsuchi atas traktiran makan siang yang enak dan bergizi, semoga sering-sering aja ya :mrgreen: Buat Arm, terima kasih tumpangannya :D

 
#Conclusion

Ternyata kopdaran itu seru ya :D Meskipun saya jarang update blog maupun blogwalking karena sibuk belajar, saya akan terima dengan senang hati kalau ada teman blogger yang mau mengajak kopdar, kalau kata Kurotsuchi, kopdaran itu untuk menambah relasi dan teman baru :) Mbak Desti, saya tunggu lho di Jogja :P Mbak Rukia yang kemarin ke Jogja, tapi ga sempat ketemu saya, dan buat teman-teman blogger yang lain, mudah-mudahan ada kesempatan untuk kopdar ya :)

Lari ke Ujung Genteng

Yay!! Akhirnya saya update blog lagi :D Setelah dua minggu lebih hiatus karena mati ide ga tau harus nulis apa, akhirnya punya bahan postingan juga. Kebetulan Senin kemarin saya melarikan diri dari rasa bosan ke Pantai Ujung Genteng. Masih asing? Ga tau? Wajar sih, soalnya pantainya terisolasi dan belum banyak orang yang ke sana. Padahal, ga jauh-jauh amat dari Pelabuhan Ratu yang terkenal itu. Ini sedikit oleh-oleh dari saya, mungkin nanti ada yang berniat ke sana :)

Di sini lho Ujung Genteng

Di sini lho Ujung Genteng

Gambar peta diambil dari sini :)

Hari Keberangkatan : Perjalanan Clueless

Di Minggu sore saya mendapat ajakan mendadak untuk ke Ujung Genteng. Daerah yang asing di telinga saya yang saya tahu sih kalau mau ke Ujung Genteng ya tinggal naik tangga ke atap.Saya setuju ikut tanpa tahu apa-apa soal Ujung Gentang. Senin pagi datang, saya pun bersiap-siap berangkat ke tempat janjian saya dengan Gina, yaitu di perempatan jalan dekat rumahnya yang kira-kira hanya 5 menit dari rumah saya dengan naik motor. Pagi itu, sekitar pukul 07.30 saya diantar sepupu saya ke perempatan yang ramai itu. Sampai sana saya menunggu cukup lama & membuat saya agak ga sabar.  Gina datang setelah saya dilewati beberapa ratus motor dan juga ditawari empat tukang ojek untuk menggunakan jasanya :P Setelah dia datang, kami mampir ke toko swalayan dekat situ untuk membeli roti dan minum untuk sarapan saya. Urusan belanja selesai, kami pun menaiki angkot menuju ke Terminal Bekasi. Sesampainya di terminal, kami mencari-cari bus menuju ke Sukabumi, berharap bisa menemukan bus yang langsung berangkat dan bagus seperti bus Primajasa Bekasi-Bandung. Setelah bertanya kepada seorang bapak, akhirnya kami menemukan sebuah bus menuju Sukabumi. Bus ekonomi dengan bentuk yang memprihatinkan, mirip metromini dengan cat coklat kumal. Saya sempat khawatir juga melihat bus tersebut dan berharap bisa menemukan bus AC yang bagus. Bukan apa-apa, saya sering mabuk darat dan tidak ingin menyengsarakan diri tersiksa sepanjang perjalanan. Tapi rupanya, itu adalah satu-satunya bus yang akan berangkat ke Sukabumi. Bus berikutnya yang merupakan bus AC baru berangkat sekitar pukul 2 siang. Mana bisa kami menunggu selama itu, apalagi Erika dan Nanda sudah terlebih dahulu berangkat dari Bandung untuk selanjutnya bertemu kami di Terminal Degung, Sukabumi. Akhirnya, mau ga mau, suka ga suka, saya dan Gina naik bus tersebut. Sedikit frustasi juga melihat interior bus yang sudah karatan sana-sini dengan jok yang kumal. Penumpang selain kami juga baru ada tiga orang, makin was-was juga kalau bus ini akan ngetem lama :| Setelah lama menunggu, kursi bus tidak kunjung penuh, dan untungnya bus segera berangkat setelah pukul 9. Dan dimulailah perjalanan pertama saya dengan bus ekonomi bertarif Rp 20.000,- menuju Sukabumi. Supaya tidak mabok, saya juga minum si obat anti mabok yg terkenal itu :P

Ini dia, si bus ekonomi jurusan Bekasi-Sukabumi

Ini dia, si bus ekonomi jurusan Bekasi-Sukabumi

Sepanjang perjalanan, saya ngobrol dengan Gina tentang Ujung Genteng. Ternyata eh ternyata, dia pun ga tau-tau amat tentang Ujung Genteng. Dia cuma sempet googling tentang penginapan dan tau kalo ada konservasi penyu hijau di sana. Masalah angkot dan lain-lainnya ga tau, yah yang penting sampai di Terminal Degung dulu katanya. Dan ternyata juga, dia pun ga tau terminal Degung itu di mana, jadi yah hanya bermodal PD nekat saja :|

Sekitar pukul 12 siang, Erika dan Nanda sms Gina, bilang kalau mereka udah sampai di Terminal Degung. Perjalanan yang kami kira hanya memakan waktu 3 jama, ternyata molor menjadi 4 jam. Sampai di Sukabumi sekitar pukul 1 siang, kami diturunkan di depan terminal dan akhirnya bertemu Erika & Nanda yang sudah sampai sejak sejam lalu.  Karena kami ga tau angkot apa yang menuju ke sana, jadi ya kami tanya ke orang-orang di terminal. Kemudian kami disarankan naik angkot kuning 03 yang menuju Terminal Lembur Situ, ongkosnya Rp 5.000,- dan memakan waktu sekitar 20 menit. Sesampainya di Lembur Situ, kami langsung dikerumuni kenek angkot yang menawarkan jasanya menuju Ujung Genteng dan Surade. Kenek-kenek itu benar-benar mengerumuni kami dan terus berteriak-teriak menawarkan angkotnya. Ada semacam angkot agak besar bermerk Elf yang disebut Elep, katanya sih bisa menempuh jarak 1,5 jam saja mencapai Ujung Genteng. Lalu satu lagi adalah bus semacam metromini bercat biru yang disebut MGI, bus ini hanya membawa penumpang sampai terminal Surade dengan jarak tempuh 3 jam. Karena perbedaan waktu tempuh tersebut, kami berkesimpulan kalau si Elep tadi pasti ugal-ugalan dan karena kami masih sayang nyawa,maka kami memutuskan naik MGI. Tarifnya Rp 20.000,-, tapi si kenek sempat membohongi kami dan meminta ongkos sebesar Rp 25.000,-. Namun, karena sebelumnya kami sudah bertanya pada penumpang lain, si kenek ga berhasil nipu kami :mrgreen:

Keadaan di MGI ga jauh beda dg bus ekonomi dari Bekasi tadi, bedanya hanya lebih penuh penumpang dan medannya yang berliku-liku naik turun bukit. Lagi-lagi, untungnya saya ga mabok. Padahal, supirnya mengemudi dengan cukup ekstrim dan sempat membuat saya terngeri-ngeri, khawatir hidup saya berakhir di jurang = =; Sepanjang perjalanan, jarang sekali rumah yang ditemui, kebanyakan adalah kebun teh & hutan-hutan. Kondisi jalan ada yang mulus dan ada yang rusak parah. Mengingat kondisi jalan yang sempit dan berkelok-kelok, bagi pengguna kendaraan pribadi, pastikan pengemudinya memang sudah lihai dan jangan lupa bawa supir cadangan. Karena ternyata, perjalanan menempuh waktu 5 jam!  Saya sampai stress di jalan. Akhirnya sekitar pukul 5.30 sore, kami sampai di terminal Surade dan diberitahu oleh penumpang yang sebus dengan kami kalau biasanya jam segitu angkot menuju Ujung Genteng udah ga ada. Untungnya, ada satu angkot yang mau pulang dan kebetulan arahnya ke Ujung Genteng, jadi akhirnyaaaaa kami naik angkot tersebut. Kalau ga ada angkot itu, mungkin kami terpaksa bermalam di masjid di Surade :roll:

Dari Surade menuju Ujung Genteng sekitar 40 menit, menyusuri jalanan yang sepi dan kami berada di satu-satunya angkot menuju Ujung Genteng. Rumah-rumah di pinggiran jalan sedikit, banyak pepohonan, dan sesekali terlihat laut biru dari kejauhan. Kami juga melewati Villa Amanda Ratu, yang katanya merupakan penginapan termahal. Namun, letaknya sendiri masih jauh dari Ujung Genteng yang ’sebenarnya’. Akhirnya kami sampai di Ujung Genteng, biasanya angkot hanya berhenti sampai pertigaan saja, namun kali ini angkotnya mau mengantar kami sampai ke penginapan yang uuh-well jauh banget dari pertigaan tadi. Jalanan dari pertigaan tersebut sepi dan suram, rumah-rumah dari kayu yang suram, dan semak semak sepi. Kami ditanya akan menginap di mana, dari hasil googling, katanya Pondok Hexa paling bagus di daerah situ. Maka kami bilang kami akan menginap di sana. Kami melewati Pondok Adi dan Losmen Mama’s, penginapan model rumah panggung yang bernuansa suram dan sepi. Akhirnya kami sampai di Pondok Hexa, ongkos angkot adalah Rp 15.000,-. Biasanya dari Surade sampai pertigaan hanya Rp 10.000,- dan harus naik ojek ke penginapan dengan ongkos yang sama. Jadi, hari itu kami berhasil menghemat Rp 5.000,- :P

Sampai Pondok Hexa, kami menanyakan harga kamar per malamnya. Kamar tanpa AC, dihargai Rp 150.000-/malam dan kamar AC dengan luas yang lebih besar Rp 230.000,-/malam dan semuanya tidak termasuk breakfast. Kami memilih kamar ber-AC dengan tempat tidur King size, tv, dan kamar mandi, karena kamar yang tanpa AC letaknya terpencil dan gelap :( Lagipula sekamar bisa berempat, tanpa tambahan apa-apa lagi.  Hari pertama sampai sana, kami ga berani kemana-mana. Karena katanya daerah situ sepi dan dulu sempat ada yang dibunuh di daerah situ, dan memang iya sih sepi dan juga gelap :( Malamnya, ketika saya dan Erika sedang duduk-duduk di beranda depan kamar, ada tukang ojek yang menawari paket wisata seharga Rp 120.000,- untuk pergi melihat penyu bertelur di tempat konservasi di Pangumbahan dan juga tur keliling semua pantai di daerah situ. Karena takut, kami pun menolak. Padahal sebenarnya kami pengen banget liat penyu hijau datang dari laut untuk bertelur :( Hari pertama di Ujung Genteng kami habiskan dengan istirahat saja dan membicarakan rencana jalan-jalan keesokan harinya.

Kamar penginapan di Pondok Hexa

Kamar penginapan di Pondok Hexa

Hari Senang-senang : Keliling Pantai

Hari kedua di Ujung Genteng, kami berharap bisa melihat sunrise. Tapi ternyata, sunrise-nya berlawanan dengan arah laut. Jadilah, kami melihat sunrise yang muncul dari balik pohon kelapa :D Pantai Kelapa Condong yang terletak di depan penginapan kami, pagi itu airnya surut. Tapi, menyisakan kolam-kolam alami yang jernih dengan hewan-hewan laut di dalamnya. Kami berjalan menyusuri pantai yang cantik itu. Airnya jernih, pantainya berpasir putih, dan sepi. Udara hari itu juga sangat cerah. Di pantai ini, pasirnya kasar karena tercampur dengan kerang-kerang kecil. Jadi, melepaskan sandal tidak terlalu saya anjurkan, karena bisa bikin kaki ngilu-ngilu tertusuk kerang :D Dari jauh, terlihat garis pantai yang lain. Katanya pantai di ujung sebelah barat itu yang paling bagus. Di sana, ada pantai Cibuaya, lalu pantai Akuatik yang bersebelahan dengan Ombak Tujuh, kemudian pantai Pangumbahan yang juga dijadikan tempat konservasi penyu hijau, dan terakhir adalah pantai Cipanarikan yang terletak paling ujung barat. Ke sebelah timur adalah pantai Ujung Genteng, namun pantai ini adalah pantai nelayan dan hutan di pantai paling ujung Ujung Genteng digunakan sebagai tempat latihan AURI.

Pagi itu, setelah kami puas main-main di pagi hari, kami sarapan mie rebus telur dan teh hangat di warung depan penginapan. Di situ juga ada tukang ojek yang menawarkan jasanya. Awalnya dia menawarkan harga Rp 80.000,- untuk mengantar kami seharian mengelilingi pantai. Tukang ojek ini akan mengantar dan menunggui kita seharian bermain di pantai. Setelah tawar menawar, akhirnya abang ojek mau menurunkan tarif sampai Rp 60.000,-. Mahal? Ah, gapapa, dibandingkan harus menyusuri pantai sepanjang 6 km dengan berjalan kaki, jelas lebih baik naik ojek. Ketika kami akan berangkat dengan ojek, serombongan bule berangkat dari penginapan membawa papan seluncur. Rupanya, banyak juga bule yang surfing di Ombak Tujuh. Dengan kepergian para bule itu, maka kami menjadi tamu satu-satunya di Pondok Hexa. Berasa punya sendiri deh :P

Sekitar pukul 8 pagi, kami berangkat naik ojek. Alamak, jalannya kecil, cuma jalan tanah, dan dikelilingi semak-semak. Sepi sekali. Sampai-sampai kalau Aa ojek berniat jahat, saya bisa saja ditelantarkan di situ. Untungnya sih itu tukang ojek ga ada niat jahat sama kami :P Sekitar 1 km dari penginapan, kami sampai ke pantai Cibuaya.  Berbeda dengan pantai Kelapa Condong yang tidak bisa dipakai untuk berenang, pantai ini bisa untuk berenang. Namun, semakin ke timur, ombaknya semakin besar. Warnanya cantik sekali, gradasi biru yang indah. Air yang bening, pasir putih, langit cerah tanpa awan, dan ombak putih bergulungan, benar-benar membuat saya terpesona dengan Kuasa Tuhan. Cantik banget deh pantai ini :)

Gradasi warnanya, cantik banget :)

Gradasi warnanya, cantik banget :)

Bagus banget >.<

Bagus banget >.<"

Setelah puas main dan bernarsis ria di pantai ini, perjalanan dilanjutkan ke pantai akuatik dan Ombak Tujuh. Di pantai Akuatik, airnya juga jernih sehingga kita bisa lihat sampai ke dasarnya yang berupa karang-karang. Kalau kita jeli dan berjalan agak ke tengah, banyak hewan laut yang bisa dilihat. Tapi, karena pantai ini berdekatan dengan pantai Ombak Tujuh, ombaknya agak besar, namun sedikit tertahan oleh karang yang ada sekitar 50 meter dari garis pantai. Berjalan ke arah timur, ada pantai Ombak Tujuh. Di pantai ini isinya bule semua, eh ya kecuali kami sih :mrgreen: Mereka banyak yang ber-surfing ria dan beberapa lainnya berjemur di pantai. Dari tepian pantai ini, kita bisa melihat tepian pantai lainnya yang berombak sangat besar. Kami ga lama-lama di pantai ini, soalnya ga enak ah diliatin sama bule-bule itu :lol:

Beningnyaaa...

Jalan Pantai...

DSC01138

Beningnyaaa...

Perjalanan selanjutnya adalah Pangumbahan, tempat konservasi penyu hijau. Tempatnya masuk ke hutan dan berupa bangunan-bangunan suram yang sepi. Kata Aa’ tukang ojek, ini hanya satu di antara beberapa tempat konservasi penyu di daerah Ujung Genteng. Ada beberapa tempat lainnya, tapi hanya yang di Pangumbahan ini yang bisa dikunjungi. Kalau datang lebih pagi, kita bisa melihat bayi-bayi penyu yang disebut tukik. Tapi, karena kami datang agak siang, penjaga yg membawa kunci sudah pulang. Jadi, kami hanya bisa bermain di pinggiran pantai Pangumbahan dan melihat tempat telur-telur penyu di pinggiran pantai yang dijaga dengan sekat-sekat.

Di malam hari, penyu-penyu datang ke tempat ini dan bertelur di pasir-pasir pantai. Biasanya ada 3-4 ekor penyu yang datang bertelur di malam hari. Kalau berminat melihatnya, bisa berangkat dari hotel sejak jam 8 malam dengan jasa ojek, ongkosnya Rp 40.000,- sudah termasuk tiket ke konservasi seharga Rp 5.000,-. Kami ga ikut paket tur ini, karena errr..beneran deh tempatnya terpencil banget, menelusuri semak dan hutan. Siang-siang aja udah horor gt, apalagi malam. Mana saya takut gelap :(   Agak sayang sih karena ga bisa liat penyu-penyu itu, tapi apa daya :|

Tapi yah, ga terlalu nyesel juga sih ga bisa liat penyu. Pantai ini baguuuusss banget, pasirnya putih lembut dan hangat. Tapi, di pantai ini kita ga boleh main air, ombaknya lumayan besar, jadi agak bahaya. Dulu, katanya pernah ada yang tenggelam di pantai ini.  Di sini juga banyak kerang-kerang yang bagus, jadi kami lama di sini untuk mencari kerang dan mengambil pasir buat oleh-oleh :P

Ayo, selamatkan penyu!

Ayo, selamatkan penyu!

Pasirnya hangat loh

Pasirnya hangat loh

Next destination, pantai paling oke yang palingg ujung! Pantai Cipanarikan. Perjalanan ke sana cukup horor, melewati semak belukar dan hutan. Sepi. Kalau saya dibuang di situ, kemungkinan saya ga akan bisa balik lagi, serius deh. Tempatnya terpencil banget, kaki juga agak perih karena seringkali ‘menyapa’ semak-semak. Kami diberhentikan di suatu tempat yang agak tinggi, kalau melihat ke bawah, terlihatlah pasir putih yang terbentang luas, laut yang biru, muara suangai yang jernih, dan bukit di ujung pulau. Ketika melihatnya, saya terpana. Benar-benar cantik dan sanggup membuat saya jatuh cinta.

Muara sungai :)

Muara sungai :)

DSC00743 (1)

Pasir putih, laut & langit yang biru :)

Pasir putih, laut & langit yang biru :)

Nyantai di pantai

Nyantai di pantai

Waktu kami datang ke pantai ini, ada beberapa orang nelayan yang sedang menjala ikan di muara. Namun, tidak lama setelah kami datang, mereka pergi. Jadi hanya tinggal kami berempat di pantai itu. Kami pun jadi bebas teriak-teriak, lari-lari, dan guling-guling di pasir :mrgreen: Berasa punya private beach deh, hehehe. Matahari bersinar terik, tapi banyak angin berhembus, jadi udara tidak terlalu panas. Air laut dan muara juga dingin. Karena iseng, Gina mencicipi air muara yang bening itu, ternyata rasanya payau :D Kami cukup lama di pantai tersebut dan baru memutuskan untuk kembali ke penginapan setelah terjadi tragedi kamera kecemplung. Setelah heboh dengan kamera yang ‘mandi’ di laut, kami ke penginapan untuk mengeringkan kamera. Namun, kami tidak lama di penginapan dan segera melanjutkan perjalanan ke pasar ikan di Ujung Genteng by ojek :D

Sesampainya di pasar ikan, penjual sudah tidak begitu banyak karena hari sudah siang. Rata-rata harga ikan per kilo adalah Rp 15.000,- . Namun, untuk ikan layur harga per kilonya adalah Rp 20.000,-. Di pasar ikan ini juga dijual udang, harga per kilonya mencapai Rp 130.000,-. Kami yang awalnya bernafsu membeli udang langsung ternganga dan memutuskan untuk membeli ikan saja. Akhirnya kami membeli seekor ikan ekor merah, seekor bawal kolam, dan seekor ikan-gepeng-yang-saya-lupa-namanya, total harganya adalah Rp 20.000,-. Dari pasar ikan, kami bisa minta ikan kami dibakar di restoran penginapan atau di rumah makan sekitar yang cuma ada satu. Kami memilih untuk ‘numpang’ membakar ikan di rumah makan saja, supaya bisa makan es kelapa sekalian. Ongkos membakar ikan adalah Rp 25.000,- Sama seperti harga ikannya :-? Kemudian kami memesan empat nasi dan empat buah kelapa, total harga termasuk ongkos membakar tadi adalah Rp 60.000,-. Setelah selesai makan, kami pun kembali ke penginapan, dan membayar ongkos ojek seharian, keliling pantai Rp 60.000,- dan ongkos ke pasar ikan Rp 10.000,-, totalnya adalah Rp 70.000,-.

Ikan Layur

Ikan Layur

Makan siang tiba >.<

Makan siang tiba >.<"

Sesampainya di penginapan, kami beristirahat sejenak. Setelah energi kembali terisi, kami pun ke pantai di depan penginapan. Saat itu pantai tidak sesurut ketika pagi, kami berniat berjalan agak ke tengah. Karena di pantai ini, ombak memang tidak pernah sampai ke tepian, kita harus berjalan sekitar 50 meter dulu untuk bisa bermain ombak. Kami mengurungkan niat tersebut karena kami banyak menemukan ‘ular laut’ di kolam-kolam yang tidak surut. Usut punya usut, setelah kami goggling dan memperhatikan badan si ‘ular laut’ ternyata itu bukan ular laut :| Tapi, entah apa saya juga belum tahu. Akhirnya kami hanya bermain di pinggir pantai dan belajar biologi :D Banyak hewan laut di pantai ini, kami menemukan bintang laut, teripang, landak laut, bulu babi, kerang, kepiting, dan lainnya termasuk si ‘ular laut’ yang tadi

Pantai di depan penginapan :D

Pantai di depan penginapan :D

Nuansa bening *halah*

Nuansa bening *halah*

Memfoto bayangan :D

Memfoto bayangan :D

Ada Patrick lagi jalan-jalan :mrgreen:

Ada Patrick lagi jalan-jalan :mrgreen:

Patrick yang langsing :P

Patrick yang langsing :P

Tertuduh ular laut, yang ternyata bukan ular laut :?

Tertuduh ular laut, yang ternyata bukan ular laut :?

Hari sudah mulai petang, kami pun kembali ke penginapan. Beristirahat sambil memikirkan nasib kamera yang kecemplung tadi. Sampai tulisan ini dibuat, belum ketahuan apakah dokumentasinya bisa terselamatkan atau tidak :? Di malam kedua ini, kami hanya tinggal bertiga saja. Karena, salah satu teman saya yaitu Nanda, dijemput pulang oleh ibunya yang kebetulan sedang berada di Sukabumi.

Hari Pulang : Perjalanan Aneh

Hari ketiga di Ujung Genteng, saatnya pulang karena uang kami sudah menipis. Mengambil uang di ATM adalah opsi yang nyaris tidak mungkin, karena perjalanan menuju ATM terdekat memakan waktu lebih dari satu jam dengan ongkos PP Rp 40.000,-. Lebih baik pulang saja :|   Biaya menginap dua malam adalah Rp 460.000,- dibagi untuk empat orang, masing-masing membayar Rp 115.000,- . Dari penginapan menuju pangkalan angkot menggunakan ojek, ongkosnya adalah Rp 10.000,-. Kami naik angkot menuju Surade bersama nelayan yang akan menjual ikan-ikannya sekitar pukl 09.00 pagi. Kali ini ongkos angkot hanya Rp 8.000,- saja :D Sesampainya di terminal Surade sekitar pukul 09.45, kami mencari-cari bus MGI menuju terminal Lembur Situ. Ternyata sudah tidak ada, padahal menurut ‘Aa ojek bus MGI biasanya ada sampai pukul 10 pagi. Dengan terpaksa kami menaiki Elep :( Elep ini selalu ada sampai sore. Katanya sih Elep ini lebih cepat dari MGI. Kalau lebih kebut-kebutan sih iya. Saya sampai khawatir kalau hidup saya berakhir di situ :| Selama perjalanan saya sempat terheran-heran, saya melihat beberapa angkot yang membawa penumpang di atasnya! Benar-benar di atas alias di atap mobil. Padahal saya yang di dalam mobil saja sudah setengah mabok dan pegangan erat-erat ke jendela. Kok bisa ya mereka tahan di atap mobil begitu :? Perjalanan dengan Elep ini memakan waktu 5 jam, meleset dua jam dari yang dibilang kenek. Keterlambatan ini bukan tanpa alasan, meski ngebut sampai bikin saya mual-mual, elep ini seringkali ngetem menunggu penumpang sampai benar-benar memenuhi semua kursi. Total lama ngetem sampai satu jam lebih :| Ongkos elep ini lebih mahal Rp 1.000,- dibanding MGI, yaitu Rp 21.000,-

Elep ini akan benar-benar penuh nuh nuh nuh. . .

Elep ini akan benar-benar penuh nuh nuh nuh. . .

Sampai di Terminal Lembur Situ, kami naik angkot menuju Terminal Degung. Ongkosnya adalah Rp 4.000,-. Sampai sekarang saya masih bingung kenapa ongkos ketika berangkat dan pulang itu berbeda :? Dari Lembur Situ, kami akhirnya sampai Terminal Degung sekitar pukul 14.30. Bus dari Sukabumi menuju Bekasi, menurut kenek bus ekonomi di hari keberangakatan saya, baru ada pukul 17.00. Artinya saya dan Gina harus menunggu agak lama, karena Erika berangkat lebih dulu dengan bus menuju Bandung. Tapi ternyata. . .bus menuju Bekasi dan Jakarta sudah tidak ada. WTH?! AKhirnya saya terpaksa naik bus ekonomi menuju Depok dengan ongkos Rp 15.000,- Keneknya bilang kalau saya mau ke Bekasi, saya bisa turun di depan pintu tol Citeureup dan menunggu bus menuju Bekasi di sana. Bus ini SANGAT ugal-ugalan. Berkali-kali penumpang berteriak memarahi supir yang mencoba membalap bus dengan jurusan yang sama. Lagi-lagi, saya pasrah kalau hidup saya berakhir di sebuah bus kumal di jalanan Sukabumi :( Jalanan sangat macet karena banyak orang yang sedang pulang kerja, sepanjang perjalanan banyak truk truk yang membawa galon-galon air mineral berpapasan dengan bus yang saya naiki. Kemacetan bertambah parah setelah memasuki Ciawi dan mulai lancar setelah masuk tol. Keluar dari tol, kami diturunkan di depan tol Citeureup.

Hari sudah malam, dan ada dua bus yang menuju Pulo Gadung dan Cempaka Mas. Bus menuju Bekasi sudah tidak ada. Akhirnya saya dan Gina menaiki bus menuju Pulo Gadung dan turun di Prumpung untuk menunggu bus 9 A yang menuju Bekasi. Saya khawatir kalau lagi-lagi saya tidak mendapat bus menuju Bekasi, errr… tapi jam baru menunjukkan pukul 8 malam, dan Jakarta masih ramai. Setelah menunggu 15 menit, akhirnya kami mendapatkan bus menuju Bekasi. Bus penuh sesak, saya berdiri di dekat pintu berdesak-desakan dengan banyak orang dengan bau yang campur-campur :| Awalnya saya kira perjalanan akan lancar, tapi di tengah tol, bus mogok. Penumpang berjejalan di dalam, berebutan oksigen, berharap agar bus segera jalan. Beberapa penumpang memilih turun setelah melihat supir memperbaiki mesin dengan menyalakan lilin. Khawatir dengan cara memperbaiki mesin yang aneh, penumpang termasuk saya dan Gina beramai-ramai turun di tengah tol yang ramai. Berlari menghindari mobil yang melaju cepat. Maka, terlantarlah saya di pinggiran tol sambil berharap akan ada bus lain yang lewat. Setelah menunggu agak lama, akhirnya ada juga bus 9 A yang mau menampung kami. Namun, kami harus berlari mengejar bus ini, karena supir bus enggan benar-benar berhenti sejenak untuk menaikkan penumpang. Setelah setengah jam di bus, akhirnya saya sampai di Bekasi pada pukul 22.00. Selanjutnya dari pintu tol, saya dijemput ayah saya. Huhuhuhu, saya lega sekali waktu melihat beliau tiba dengan mobil hitamnya. Akhirnya saya sampai rumah juga setelah berada dalam perjalanan yang aneh selama 12 jam :)

Tips untuk Lari secara “Kere” di Ujung Genteng :

1. Bawalah sandal jepit dan air minum yang cukup. Saya sempat mengalami dehidrasi karena kurang minum.

2. Berangkatlah sepagi mungkin, baik ketika berangkat maupun pulang, karena bus di sana terbatas dan tidak sampai sore. Bus terakhir menuju Bandung adalah pukul 16.00 dan menuju Bekasi atau Jakarta pada pukul 15.00. Tapi, terkadang hal itu bisa berubah, seperti yang saya alami kemarin.

3. Beramah-ramahlah pada Aa ojek supayan bisa mendapat diskon. Dengan bilang kalau kita mahasiswa apalagi dengan tampang yang kere macam saya biasanya akan mendapat diskon.

4. Kalau mau lebih hemat lagi, bisa menginap di penginapan selain Pondok Hexa. Tapi, soal kenyamanan dan keamanan, Pondok Hexa merupakan yang paling bagus di daerah sana. Kemarin kunci kamar kami sempat dua kali tertinggal dan untungnya tidak ada satupun barang yang hilang.

5. Bagi yang khawatir kulit terbakar, jangan lupa bawa tabir surya atau topi.

6. Harga makanan di penginapan tidak terlalu mahal, tapi supaya lebih hemat bisa sarapan mie rebus telur dan teh hangat di warung depan penginapan :P

7. Untuk yang sering mabuk darat, minumlah Ant**o. Akan sangat membantu di perjalanan Anda *iklan*

Rute Perjalanan dari Bekasi

Terminal Bekasi-Terminal Degung, Sukabumi-Terminal Lembur Situ-Terminal Surade-Ujung Genteng. Berdoalah semoga tidak terjebak macet, sehingga bisa sampai Surade sebelum pukul 17.00. Kalau tidak beruntung, silahkan menginap di masjid terdekat :mrgreen: Waktu tempuhnya sekitar 9 jam. Untuk perjalanan pulang, rutenya sama, kecuali kalau mengalami perjalanan pulang yang aneh macam saya.

Selamat berlibur! Dan percayalah, perjalanan gila itu akan sebanding dengan view yang didapat :mrgreen:

_______________________

*Foto diambil menggunakan kamera ponsel dengan resolusi 2 MP, jadi yah, ga terlalu bagus dan cuma sedikit :D Setelah dokumentasi dari kamera digital bisa diselamatkan, gambar akan saya update :)

*Last edited on August 14, 2009 at 08.58 am : penambahan peta atas request temen kost :D

Fai-da-te per Negati

Sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya sudah niat mengupdate blog saya ini. Rencananya, saya akan menulis tentang pelajaran bahasa Italia, dimulai dari cara baca sampai salam. Saya juga masih newbie dalam bahasa Italia, tapi saya rasa ga ada salahnya berbagi. Sekalian saya mengulang pelajaran saya. Karena itu, sejak tadi sore, saya mulai menulis draft postingan saya. Tapi, kemudian saya sadar kalau saya harus membuat tabel alfabet Italia dan cara membacanya. Padahal, saya mana bisa bikin tabel macam gitu. Saya cuma bisa buat tabel ya di Word atau Excel :| Mana bisa saya bikin tabel dalam format .jpg oh well saya emang payah :roll: Maka, akhirnya saya pun jadi kesal sendiri. Ya kan salah saya sendiri, kenapa juga saya gaptek :| Jadilah akhirnya uring-uringan, mana tetangga saya nyetel lagu dangdut kenceng pula. Saya jadi tambah kesal :evil:

____

Untuk mengobati rasa kesal, akhirnya saya blogwalking dan mampir-mampir ke situs-situs yang menawarkan tutorial bahasa Italia. Lumayan memperbaiki mood sih :) Nah, karena mood saya mulai membaik, jadi saya melanjutkan rencana saya untuk menulis tentang pelajaran bahasa Italia. Tapi, mungkin tanpa tabel alfabet lengkap dan cara bacanya :( Soalnya, saya masih belum bisa bikinnya :cry:

 

Saya cuma punya tabel ini setelah susah payah googling. Masih sederhana sekali dan tidak menjelaskan cara baca dengan lengkap :?

Alfabet Italia dan cara bacanya

Alfabet Italia dan cara bacanya

Gambar tersebut diambil dari sini :)

 

Tabel di atas ga terlalu menolong sih, cuma sekedar menunjukkan alfabet Italia yang jumlahnya cuma 21 saja. Cara baca di bawahnya itu pun menggunakan ejaan Italia, saya jadi susah menjelaskannya karena kebodohan saya yang ga bisa buat tabel macam gitu :(

Baiklah, saya akan berbagi tentang salam  dalam bahasa Italia :) Siapa tahu nanti jalan-jalan ke Italia atau malah punya gebetan orang Italia :P

 

 

Saluti alias Salam :)

Di dalam bahasa Italia ada tingkatan penggunaan bahasa. Tidak senjelimet bahasa Jawa ataupun Jepang yang punya banyak tingkatan, di dalam bahasa Italia hanya ada dua, yaitu formal (f) & informal (i). Penggunaan bahasa formal biasanya digunakan dalam lingkungan yang bersifat formal seperti kantor, untuk bicara dengan orang yang baru dikenal atau orang yang lebih tua. Untuk bahasa informal, biasanya digunakan untuk teman sebaya. Bisa juga digunakann untuk berbicara kepada yang lebih tua, jika sudah mengenal dengan baik :) Penggunaan salam dalam bahasa Italia juga merujuk kepada hal-hal tadi, ada yang formal dan juga informal. Berikut contohnya :

 

Formale :

buongiorno : selamat  siang

buonasera : selamat malam

buonanotte : selamat malam, dalam konteks ini adalah selamat tidur. sama seperti penggunaan kata Good night dalam bahasa Inggris :D

salve : salam! penggunaannya kurang lebih sama dengan kata “Horas” dalam bahasa Batak :)

come sta? : apa kabar?

é stato un piacere conoscerla  : senang bertemu dengan Anda

arrivederla : sampai jumpa

si diverta : have fun!

buona giornata : have a nice day!

faccia buon viaggio : have a nice trip!

 

Informale :

ciao : ciao bisa digunakan untuk mengawali & mengakhiri percakapan. artinya bisa “hai” atau “daaah”. biasa digunakan dengan teman sebaya dan orang yg lebih tua tapi sudah akrab :)

come stai? : penambahan -i di akhir seringkali menunjukkan bahwa kalimat tersebut adalah informal :D

fai buon viaggio! : have a nice trip!

ci vediamo : sampai jumpa

 

Selain bentuk formal dan informal, ada juga bentuk netral.

come va?  : apa kabar?

piacere / molto lieto   : nice to meet you

grazie  : thank you

per favore  : please

permesso   : permisi

prego/figurati  : bisa berarti “please” atau “you’re welcome”

di niente  : it’s nothing. atau bahasa kerennya sih “gapapa kali” :P

mi scuzi  : maaf. dalam konteks ini,  kita tidak sengaja menginjak kaki orang ketika di busway:lol:

mi dispiace  : maaf. digunakan dalam konteks yg lebih ’serius’, macam “i’m sorry to hear that”

 

Come sta?

pertanyaan ini bisa dijawab dengan beberapa kemungkinan, yaitu :

  • sto bene  : i’m fine
  • sto bene, benissimo   : i’m really fine
  • non c’è male  :  nothing special (with my life)
  • cosi cosi  : so so
  • non troppo bene : not fine
  • abbastanza bene : quite good

 

Introduzione :

come si chiama? (f)   : siapa nama Anda?

come ti chiama? (i) : siapa namamu?


bisa dijawab dengan :
  • mia chiama  . . . : nama saya . . .
  • langsung sebut nama

 

Contoh percakapan (f) :

Michela       : Buonasera! (selamat malam!)

Giuseppe    : Buonasera! Come sta? (selamat malam! apa kabar?)

Michela       : Sto bene, grazie. E Lei? (kabar saya baik, terima kasih. dan anda?)

Giuseppe    : Anche sto bene, grazie. Come si chiama, Lei? (saya juga baik, terima kasih. siapa nama anda?)

Michela       : Mi chiamo Michela. E Lei, come si chiama? (nama saya Michela. kalau nama anda?)

Giuseppe    : Giuseppe Marchesi

Lei bisa berarti Anda atau dia perempuan. Namun, jika ditulis dengan -l besar (L), maka dapat dipastikan yang dimaksud adalah “Anda”. Ah iya, percakapan di atas merupakan salah satu contoh dalam menyapa dan melakukan perkenalan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa resmi, dengan mengambil contoh dua orang dewasa yang belum saling mengenal :wink: Yah, mungkin perkenalannya bisa berlanjut :lol:

 

Hah, capek juga nulisnya. Sudah sekitar 770 kata, jadi teringat tugas essay di kampus :mrgreen: Sebenarnya postingan ini masih banyak kekurangan, terutama adalah kurang penjelasan tentang cara baca. Semoga saja bisa saya carikan solusinya. Selain itu, postingan ini agak lompat-lompat dan tidak rapi, maklum saya orangnya sering ga fokus :cry: Yah, tapi semoga bisa bermanfaat :)

 

 

———————————————————————-

*1. Judul diambil dari sini yang berarti “do-it-yourself for dummies”. Hal ini merujuk pada betapa dummy-nya saya dalam masalah tabel tadi dan juga dalam penulisan postingan yang sangat tidak rapi ini :| Harusnya saya bisa bikin tabel itu senidiri. Saya butuh petunjuk pembuatan tabel yang mudah dipahami oleh orang dummy macam saya :cry:

*2. Buku yang saya gunakan adalah Noi – Corso base di italiano per stranieri & Uno – Corso comunicativo di italiano per stranieri – Primo Livello -

*3. Untuk belajar lebih lanjut bisa klik link yang ada di sebelah kanan blog saya dengan nama Tempat Belajar :)

Sudah Nonton Harry Potter 6?

Ah, sebelum jadi basi, lebih baik saya nulis tentang Harry Potter sekarang. Mumpung saya juga lagi ga ada kerjaan pagi ini :D

Bahkan posternya pun agak dark :D

Bahkan posternya pun agak dark :D

Jadi, kemarin saya nonton Harry Potter bareng teman-teman saya di XXI Giant. Harry Potter & The Half Blood Prince ini merupakan seri ke-6 dari keseluruhan tujuh seri HP. Sudah sejak lama film ini ditunggu-tunggu olah para HP mania, termasuk teman-teman saya yang udah heboh sejak zaman UAS kemarin. Saya sendiri sebenarnya bukan HP mania sih, buku terkahir yang saya baca itu seri ke-5 itu juga karena ada yang baik hati mau minjemin. Sedangkan filmnya sendiri, yang saya tonton di bioskop cuma yang pertama saja. Sisanya? Tentu saja nonton dari dvd bajakan dong :mrgreen:

Lalu, bagaimana yang bukan seorang pecintaHP ini bisa nonton HP 6?

Ah, kalau yang ini sih, ya jelas karena saya ga ngantri susah payah untuk beli tiketnya. Beberapa hari yang lalu saya nonton Ice Age 3, eh ternyata tiket HP 6 udah bisa dibeli saat itu juga. Ya akhirnya sekalian beli aja deh. Ga kebayang deh kalau saya mesti beli sekarang-sekarang ini. Rame banget. Rasanya orang tumplek blek di bioskop demi HP 6. Kalau udah begitu, saya sih pasti ga jadi nonton :P

Ah, mari balik lagi ke topik utama, yaitu film HP ke-6 :P Karena saya belum pernah baca seri HP ke-6 ini, ketika mulai duduk di kursi teaterr saya sama sekali ga ada bayangan bagaimana ceritanya nanti. Satu-satunya petunjuk buat saya tentang film ini cuma trailer yang saya tonton dari yutub. Yang saya tau dari situ adalah film ini nuansanya agak gelap dan Draco Malfoy itu cakep. Sisanya saya gatau dan datang hanya dengan harapan Draco banyak muncul :D

Ah, baiklah, saya akan memberikan testimoni singkat tentang film ini. Saya sedang malas bikin review panjang-panjang :P Buat saya pribadi, karena saya ga baca bukunya, saya pikir saya bisa sedikit lebih objektif dalam menilai cerita di film ini. Banyak penggemar HP yang sudah baca bukunya mengaku kecewa dengan film ini. Katanya banyak adegan di buku yang dipotong, yah itulah jadinya kalau novel diadaptasi jadi film. Banyak ekspektasi dari pembaca yang ga terwujud atau jadi beda karena imajinasi tiap oarang yang berbeda. Buat saya sendiri, cerita di film ini biasa saja. Dari awal sampai akhir, IMO, ga ada hal yang bikin saya bilang “wah” atau merasa deg-degan. Buat saya, ceritanya datar. Rasanya jadi mirip ksatria yang melawan naga untuk menyelamatkan putri, lalu ya sudah, the end begitu. Ah, tapi ya ceritanya ga begitu, kurang pas kayaknya analoginya. :mrgreen: Adegan ngobrol-ngobrolnya banyak, minim adegan kelahi. Ah tapi kalau kelahinya banyak juga palingan kan cuma saling ngucap mantra ya. Cerita utama tentang The Half-Blood Prince pun kurang terangkat, karena di film malah berfokus pada Harry dan Dumbledore yang berusaha menguak sesuatu di masa lalu Professor Slughorn menyangkut Tom Riddle alias Voldemort. Karena itu, saya sempet lupa kalau film ini bercerita tentang The Half-Blood Prince yang akhirnya baru ketahuan belakangan, dengan cara yang SANGAT BIASA :P

Tapi, dari sinematografinya, lumayan bagus kok. Suasananya dark gitu etapi ini sih preferensi masing-masing sih, kebetulan saya suka yang dark begini. Adegan tanding Quidditch-nya juga keren, sayang ga ada adegan ngejar-ngejar Snitch. Sayangnya, pemandangan bagusnya cuma sedikit. Lebih banyak adegan di korior-koridor kastil. Kalau mendambakan adegan tangga kastil yang bergerak-gerak sendiri ataupun hantu-hantu sekolah, macam Peeves berkeliaran, lupakanlah. Sama sekali ga ada adegan macam gitu, bahkan Nona Gemuk pun ga ada.

Hmmm, kalau dari score-musicnya, saya gatau sih siapa yang garap. Lumayan sih, tapi ga bisa dibilang bagus banget. Masih kalah sama score-music The Lord of The Rings, atau kalau dibandingkan dengan yang lumayan baru sih Angels & Demons. Jadi yah average sih, ga bikin saya tergerak buat nyari Ost.nya :D

Secara keseluruhan, saya menilai *halah, berasa kritikus film* film ini biasa saja. Sewaktu nonton film ini, ekspresi saya cenderung datar, sedikit berubah karena saya kaget di suatu adegan yang ada makhluk mirip Gollum-nya :P Setelah film usai, saya malah bilang ke teman saya, “eh ini udah selesai? Kok begitu doang?”. Dan saya masih terus bertanya-tanya “kok begitu doang sih?” sampai saya keluar dari teater :P Mana adegan si Draco yang pake jubah sambil ngacungin tongkat kayak di trailer-nya ga ada pulak, kecewa saya :(

Tapi, buat yang HP mania, saya pikir lebih baik nonton aja. Ga ada ruginya juga sih. Meskipun menurut saya filmnya biasa aja, tapi ga sampai bikin saya punya perasaan oh-please-balikin-duit-duapuluhribu-gw. Jadi, ya masih oke kok buat ditonton kalau emang lagi pengen nonton tapi saya lebih rekomend Ice Age 3 sih

Minat nonton? Cepatlah datang ke bioskop kesayangan Anda *halah*. Jangan lupa datang pagi-pagi ya, soalnya pasti antri banget. Ajak teman buat gantian antri, soalnya bakal capek berdiri di antriannya. Yah,pilihan di tangan Anda :D Selamat nonton!

Take Me Out, Beibh :P

Hore, ini adalah postingan pertama saya, hehehe. Akhirnya rilis juga :P

Seperti yang tertulis di sini, saya ini sedikit “terbelakang” karena saya malas nonton TV. Nonton TV dilakukan cuma kalau saya mulai mati gaya, iseng semata, atau ngecek film apa yang lagi main. Nah, karena saya sekarang sedang liburan dan kurang kerjaan, akhirnya frekuensi saya menonton si kotak ajaib pun bertambah.

Jadi, beberapa hari yang lalu saya nonton si kotak ajaib yang ada di ruang keluarga rumah saya. Acara yang saya tonton waktu itu adalah Take Me Out versi Indonesia lagian saya juga gatau kalau ada versi Barat-nya sih :P

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya nonton acara ini, bahkan saya nonton dari episode yang paling awal. Bukan saya niat nonton atau gimana juga sih, waktu pertama nonton itu juga karena kebetulan saya sedang suntuk menggarap tugas kuliah saya. Jadi, akhirnya saya nonton TV dan nemu acara ini.

Waktu lihat sekilas, saya penasaran ini acaranya gimana sih, kok ada banyak cewek berdiri di belakang podium yang ada lampunya. Terus kok ada cowok yang memperkenalkan dirinya gitu. Ya akhirnya saya nonton acara ini sampai selesai dengan mendapat kesan-kesan tertentu dan mengambil beberapa kesimpulan :D Nah, karena waktu itu musim ujian sudah mulai, maka lagi-lagi saya mengisolasi diri dari dunia pertelevisian *halah*. Dan akhirnya, terlupakanlah acara itu. E tapi, karena akhirnya liburan datang, tergodalah saya untuk membuka hati pada si kotak ajaib itu yang akhirnya membawa saya kembali menonton acara Take Me Out ini sampai dua minggu berturut-turut. Lagi-lagi setelah nonton acara ini bareng teman, ibu, dan juga nenek saya, muncul beberapa hal yang cukup menggelitik saya.

Setelah menonton tiga episode acara ini, saya terus jadi bertanya-tanya, ini acara beneran ga sih? Apa jangan-jangan udah ada scriptnya? :?

Kalau acara ini udah ada scriptnya, tolong ya dibuat lebih baik buat acara dan naskah yang lebih bagus. Bukan ga menghargai kru-krunya, tapi rasanya biaya produksinya lebih baik diinvestasikan untuk program yang lebih bagus etapi katanya ratingnya tinggi sih. Lagian, kalau ini pakai script, acting pemain-pemainnya nggak banget deh :P

Kalau acara ini emang bener-bener reality show, tanpa script, kok ya rasanya agak gimana juga gitu. TMO ini kan ditujukan sebagai ajang cari jodoh atau pasangan yang serius (yang saya tangkap sih gitu), tapi kok ya caranya nggak pas gitu.

Di acara ini, 30 perempuan berdiri berjajar di belakang podium berlampu bebas menyalakan atau mematikan lampu untuk menentukan untuk memilih atau menolak si pria single di panggung. Oke, cukup bagus juga idenya membuat perempuan bisa menentukan pilihan macam begini (meskipun pada akhirnya si pria yang menentukan sih). Sayangnya, yang bikin nggak banget adalah rata-rata mereka menentukan pilihan berdasarkan fisik si pria atau malah yang lebih parah lagi adalah berdasar kekayaannya. Dan ini jelas terlihat, karena beberapa perempuan secara eksplisit mengungkapkan soal hal ini. Malah pernah ada yang tanya ke si pria,

Emangnya sanggup biayain saya?

WTH!! Belum apa-apa aja udah begitu. Pantesan aja susah dapat pasangan. Dan kalau si pria ternyata dirasa cukup mapan, maka berlomba-lombalah perempuan-perempuan ini untuk menarik perhatian si pria.Termasuk dengan cara bercentil-centil ria dengan nada bicara yang menggoda. Kalau udah begini, muka saya pasti tambah datar :|

Tapi, ga cuma itu yang bikin saya gemes nonton acara ini. Si prianya juga kadang nggak banget. Karena tahu mungkin kemapanan adalah mutlak untuk membawa pulang calon istri, maka terjadilah ajang pamer kekayaan di sini. Si pria dengan enteng menyebut berapa penghasilannya dalam sebulan, berapa asetnya, punya usaha apa aja, dan mungkin berapa rumah atau mobil yang dia punya. Saya jadi kasihan sama pria-pria ini tapi salah sendiri sih. Oh iya, biasanya di setiap acara ini aka nada satu atau dua pria yang “aneh” yang berakhir dengan ditolaj semua perempuan. Pria-pria ini nantinya akan marah-marah dan berkata dengan kalimat andalan, “kalian akan nyesel ga milih saya”. Capedeee :roll:

Oke, saya ga munafik, kalau cari pasangan itu ya sebisa mungkin yang mapan. Tapi itu kan bukan yang paling utama, yang penting kan personality. Jujur, saya malah jadi kasihan sama orang yang ikut acara ini. Buat yang perempuan, kesannya seperti merendahkan diri, terlalu dibuat-buat supaya bisa menarik si calon pasangan. Lagipula, make up-nya juga bikin sakit mata rasanya. Padahal yang namanya cari pasangan, apalagi yang serius, lebih baik tampil apa adanya, tidak artificial, dan ga maksa. Buat yang lelaki juga, kalau mau dapat pasangan yang baik, ya jangan pamer harta macam gitu. Jangan merasa paling oke dan laku, lagian kalau emang merasa sangat laku, ya kok ikut acara ini to (berlaku buat yang perempuan juga sih) :P

IMO, cari pasangan apalagi yang serius itu yaaa dipikir baik-baiklah caranya. Jangan sembarangan. Hihihihi, tapi ya terserah masing-masing orang sih ya, kok malah saya yang sewot. Lagian buat yang masih muda-muda macam saya, kan enakan cari pacar di kampus ketimbang di tipi. Kecuali kalau emang kebelet narsis masuk tipi sih ya :P

Ah ya sudahlah, panjang juga acara ngedumel van misuh saya ini. Mudah-mudahan besok saya ngga khilaf nonton acara tivi yang aneh lagi :mrgreen:


Blog Stats

  • 1,256 hits

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Categories